Stimulus

Dalam minggu-minggu ini sudah dua orang mahasiswa universitas lampung yang melakukan wawancara dan akses dokumen untuk menulis skripsi seputar akses kelola dan kolaborasi di Tahura Wan Abdul Rachman.

Pertanyaan-pertanyaannya datar saja namun cukup mengusik pikiran untuk memberikan jawaban terbaik. Lumayan juga menguras energi dan waktu untuk merekonstruksi kembali dokumen dan pemikiran tercecer. Namun, saya bersyukur mendapatkan hikmah dari kunjungan mereka berdua yakni mulai membuka kembali dokumen tentang komuniti forestri dan Tahura Wan Abdul Rachman serta utak-atik gagasan yang sempat tertata dan terhenti pasca penyusunan perda kolaborasi Tahura Wan Abdul Rachman.

Memang pasca perda kolaborasi Tahura Wan Abdul Rachman diketok palu oleh DPRD Propinsi Lampung, Saya merasakan energi negatif dari UPTD Tahura Wan Abdul Rachman. Mereka masih merasakan bahwa perda ini wujud pengambilalihan wewenang UPTD Tahura Wan Abdul Rachman sehingga perlu untuk direview oleh pihak departemen kehutanan dan tidak perlu sesegera mungkin untuk dilaksanakan. Walaupun menurut keterangan DPRD Lampung, pemerintah pusat sudah mereviewnya dan tidak ada perubahan apapun.

Bagi saya itu tantangan tersendiri untuk menjawab bagaimana mewujudkan perda kolaborasi Tahura Wan Abdul Rachman menjadi praktik nyata di lapangan oleh parapihak yang berkepentingan disana. Mau gak mau buka kembali kamus buku kolaborasi terbitan LATIN dalam beberapa edisi berbeda. Siapa tahu ada jurus/ seni kolaborasi yang belum saya perdalam dan dipergunakan… (Koer – KaWAN TANI)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s