Kemitraan Perusahaan Swasta Dengan Petani

Ada catatan menarik tentang ketertarikan petani memilih jenis tanaman pertanian/perkebunan/kehutanan sebagai pilihan komoditi unggulannya. Patut disimak situasi berikut: Mengapa perusahaan perkebunan kelapa sawit di Lampung Barat tidak mampu mendorong minat masyarakat Krui menanam sawit sebagaimana di Propinsi Riau dan Jambi? Mengapa perusahaan perkebunan tebu di Lampung Tengah dan Tulang Bawang juga tidak mampu menarik minat masyarakat untuk menanam tanaman tebu di tanah marga/rakyat sebagaimana perkebunan tebu rakyat di Jawa Timur?  Pada kesempatan lain, patut dicermati juga bahwa Lampung terbukti cukup sukses mendorong perkebunan rakyat yang massif pada komoditi jagung dan singkong.  Apa saja kira-kira hal-hal yang menjadi pelajaran dari beberapa kejadian tersebut?

Penulis tidak ingin membahas secara menyeluruh tetapi hanya pada satu sisi saja, yakni faktor pengalaman petani bekerjasama dengan perusahaan. Pada pola kemitraan (skema plasma/petani dan inti/perusahaan) yang dijumpai pada perusahaan perkebunan sawit di Lampung Barat atau perusahaan perkebunan tebu di Lampung Tengah dan Tulang Bawang cenderung memposisikan petani sebagai pekerja, tanpa knowledge management tentang perkebunan yang memadai, tidak paham rantai produk pertanian/ perkebunan, informasi perjanjian/pelunasan kredit, lahannya disewa murah dan tentunya dengan upah pekerja buruh yang murah.

Model kemitraan semacam ini tentu tidak mendapatkan apresiative dari petani, dan pengalaman buruk ini akan selalu menjadi dasar sikap petani ketika menyampaikan pendapat dan keputusan bekerjasama dengan perusahaan. Budaya komunikasi di tingkat petani yang lebih mengandalkan lisan atau cerita dari mulut ke mulut turut mempercepat sikap dan proses pengambilan seluruh petani di suatu wilayah untuk menolak bekerjasama dengan perusahaan.  Sikap masyarakat tersebut tidak akan mampu digoyahkan oleh iming-iming janji baru konsultan atau juru bicara perusahaan karena bukti nyata tentang kerjasama dengan perusahaan yang disaksikan dengan mata (mensejarah) sahih sekali.

Lain halnya dengan model kerjasama seperti perkebunan rakyat seperi tebu (Jatim), singkong dan jagung (Lampung) yakni petani bertindak sebagai pemilik lahan dan berkuasa penuh terhadap jenis tanaman, waktu tanam dll, sedangkan perusahaan-perusahaan keberadaannya sebagai mitra kerja petani dalam hal pasar atau menampung hasil produksi petani sesuai dengan harga pasar pada umumnya (grading).  Model kemitraan seperti yang demikian memiliki kesetaraan yang sama dalam hal menentukan kepada siapa pembeli dengan harga tertinggi lah produk dijual.

Jika memang belum ada pengalaman berhasil baik dengan model kemitraan ala Inti Plasma, saran penulis tidak mesti dipaksakan dicarikan kembali lokasi yang baru. Lebih baik lupakan saja, mungkin saja produk Kemitraan Inti Plasma itu memang sudah cacat bawaan dari lahirnya (mengandung konflik laten atau memang diadopsi dari ide perkebunan swasta zaman kolonial Belanda tidak manusiawi). Penulis memandang pengalaman keberhasilan pertanian/perkebunan/kehutanan pada komoditi jagung dan singkong (Lampung), tebu (Jatim), sengon (wonosobo) patut mendapatkan apresiative dan perlu dikembangkan oleh petani, perusahaan dan pemerintah daerah. (Koer – KaWAN TANI)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s